Sebuah awal
Sore itu, langit masih memeluk cahaya.
Belum ada tanda-tanda kuning keemasan yang biasanya menyemburat menjelang petang. Aku melirik jam tangan—jarum pendek menunjuk angka tiga, lewat dua puluh menit. Kami bertiga sedang duduk bersisian, larut dalam obrolan yang ringan dan tak tentu arah, ketika tiba-tiba muncul sebuah keinginan yang tak bisa ditampik: mendaki gunung.
Entah siapa yang memulai, tapi seolah-olah pikiran itu melompat dari benak ke benak. Dalam sekejap, kami sepakat. Tanpa rencana matang, tanpa perhitungan keuangan. Padahal hari itu tanggal 9—sehari sebelum gaji turun.
"Sudah, berangkat saja dulu. Uang seadanya cukup. Toh, besok gajian."
Begitu kata Arya, dan kami hanya saling pandang lalu mengangguk. Sederhana dan nekat.
Aku langsung membuka ponsel, jari-jari melesat menari di atas layar, menelusuri informasi tentang Gunung Gede Pangrango. Tentang rute menuju basecamp, kendaraan apa yang harus dinaiki, hingga syarat-syarat pendaftaran. Di zaman ini, segalanya bisa diraih lewat gawai. Tak perlu lagi membawa berkas menumpuk; surat sehat, tiket, formulir pendaftaran—semua bisa diakses dalam genggaman.
Kenapa Gunung Gede Pangrango?
Karena ia adalah gunung profesional tertinggi yang paling dekat dari tempat kami tinggal. Karena kami sudah sering melintasi rutenya. Dan mungkin juga karena ego kecil yang tumbuh dari rasa penasaran—tentang MDPL, tentang bagaimana rasanya menjejak di atas ketinggian. Kami, tiga pemuda biasa yang tengah jatuh cinta pada euforia mendaki. Kami tahu, sebagian dari kita pernah merasakan hal yang sama.
Malam pun turun perlahan.
Aku baru saja kembali dari Balaraja, membawa tas ransel 55 liter pinjaman dari seorang kawan. Sekalian menyewa perlengkapan mendaki: tenda, sepatu, sleeping bag, dan matras. Aku dan Janur membawa semuanya dengan hati-hati, seolah sudah mengerti betapa pentingnya alat-alat itu.
Kami memang nekat, tapi tidak sebodoh itu untuk meremehkan keselamatan. Kami rela mengeluarkan uang—yang bagi kami tidak sedikit—demi menjaga nyawa di tempat yang asing dan menantang. Kami hanya berharap, siapa pun yang membaca kisah ini dan ingin mencoba mendaki, turut mengingat hal yang sama.
Obrolan malam itu berlangsung panjang, bercampur tawa dan imajinasi tentang kabut, tenda yang berdiri di bawah bintang, dan secangkir kopi hangat di dekat jurang.
Tanpa sadar, kami pun terlelap. Dunia mimpi menyambut kami seperti pendahuluan dari perjalanan yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar