Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Sebuah awal

Sore itu, langit masih memeluk cahaya. Belum ada tanda-tanda kuning keemasan yang biasanya menyemburat menjelang petang. Aku melirik jam tangan—jarum pendek menunjuk angka tiga, lewat dua puluh menit. Kami bertiga sedang duduk bersisian, larut dalam obrolan yang ringan dan tak tentu arah, ketika tiba-tiba muncul sebuah keinginan yang tak bisa ditampik: mendaki gunung. Entah siapa yang memulai, tapi seolah-olah pikiran itu melompat dari benak ke benak. Dalam sekejap, kami sepakat. Tanpa rencana matang, tanpa perhitungan keuangan. Padahal hari itu tanggal 9—sehari sebelum gaji turun. "Sudah, berangkat saja dulu. Uang seadanya cukup. Toh, besok gajian." Begitu kata Arya, dan kami hanya saling pandang lalu mengangguk. Sederhana dan nekat. Aku langsung membuka ponsel, jari-jari melesat menari di atas layar, menelusuri informasi tentang Gunung Gede Pangrango. Tentang rute menuju basecamp, kendaraan apa yang harus dinaiki, hingga syarat-syarat pendaftaran. Di zaman ini, segalanya bi...

Postingan Terbaru